Terkadang aku merasa iri akan sesosok seorang ayah yang selalu mengkhawatirkan keadaan anaknya. Menanyakan keadaan anaknya. Menjemputnya ketika ia sekolah. Mencemaskannya saat diluar sedang hujan deras.
Terkadang merasa iri dengan ayah yang selalu menjemput dan menunggu anaknya didepan gerbang sekolah sampai anaknya keluar. Meskipun, anak putrinya sudah duduk dibangku SMK.
Aku hanya bisa tersenyum dan berdoa suatu hari anak putrinya ini merasakan hal yang sama.
Tetapi, ayah selalu membiasakan anak putrinya ini untuk mandiri. Bahkan saat anaknya putrinya ini pulang malam setelah kegiatannya ini ayah tak pernah menanyakan "Dimana?" "Lagi Dimana?" "Pulang Jam Berapa?". Jauh dari menunggu anaknya sampai dia keluar.
Entah mungkin karena ayah terlalu percaya ataupun emang ayah gak peduli.
Pulang kehujunan, baju basah kuyup. Masih aja ayah bentak. "kalau ia di sekolahkan dia pasti nunggu sampai hujan itu reda ga mungkin dia lanjutin untuk pulang" "dan lagi-lagi ibumu yang memcuci bajumu" sebelum ibu mengerjakannya aku terlebih dulu untuk mencuci bajunya karena aku tahu baju seragam putihku hanya satu, tapi ibu melarangku agar besok aku kerjakan. Karena kelas 2 ini aku kebagian jadwal sekolah siang.
Separah itukah aku dimatanya? Segitu tak bergunanya aku dimatanya?
Padahal aku berjuang buat mereka. Mencoba lebih giat belajar meskipun jurusan itu bukan jurursan yang sesuai dengan apa yang aku inginkan.Ayah hanya tahu bagaimana ia harus menyekolahkanku sampai aku perguruan tinggi tapi setidaknya berilah anaknya ini perhatian. Namun. itulah ayahku berbeda dengan ayah yang lain. Aku juga tak bisa memaksakan keinginanku untuk menjadikan ayahku seperti ayah yang lain.
Namun, yang harus aku buktikan aku pasti mencapai kesuksesan yang meraka inginkan dan membuat mereka bangga dengan masa depanku nanti. Mungkin sakitku ini belum sesakit mereka mengurusku. Ini bagian gebrakanku untuk selalu berjuang mencapai cita-citaku.
Yang harus ayah, ibu tahu apapun yang mereka lakukan, entah itu kemandirian dan apapun yang ayah ibu ajarkan, takkan mengurangi rasa sayangku terhadap mereka. Walaupun harus aku yang dipandang sebelah mata. Itu akan aku jadikan motivasi untuk berusaha menjadi orang yang mereka harapkan. Meski perkataan mereka sekaan mendoakan yang perilaku yang buruk untuk anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar